KETERSEDIAAN INFRASTRUKTUR DAN PERTUMBUHAN WILAYAH: BUKTI PANEL DARI JAWA TIMUR

Authors

  • Gilang Rizky Anugrah Universitas Surabaya
  • Sugeng Hariadi Universitas Surabaya
  • Mintarti Mintarti Ariani3 Universitas Surabaya

DOI:

https://doi.org/10.31539/wq095x58

Keywords:

Infrastruktur Jalan, Infrastruktur Listrik, Infrastruktur Air Bersih, PDRB, Pertumbuhan Ekonomi.

Abstract

Penelitian ini menganalisis pengaruh ketersediaan infrastruktur jalan, listrik, dan air bersih terhadap pertumbuhan ekonomi di lima wilayah strategis Jawa Timur yaitu Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Kediri, Kabupaten Gresik, dan Kabupaten Mojokerto periode 2015-2024. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder dari Badan Pusat Statistik (BPS), penelitian ini menerapkan metode regresi data panel dengan EViews 12 dan SPSS 26. Pertumbuhan ekonomi diukur melalui PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010, sementara variabel independen meliputi panjang jalan kondisi baik (km), daya listrik terpasang (kwh), dan volume air bersih disalurkan (m³). Hasil penelitian menunjukkan bahwa infrastruktur listrik dan air bersih berpengaruh positif dan signifikan terhadap PDRB, dengan koefisien masing-masing 0,427 dan 0,420. Sebaliknya, infrastruktur jalan justru menunjukkan pengaruh negatif signifikan (-0,128) yang mengindikasikan terjadinya backwash effect. Model penelitian memiliki daya jelas yang sangat kuat dengan Adjusted R-squared sebesar 0,951. Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan kualitas dan pemerataan infrastruktur, serta pengelolaan dampak negatif pembangunan jalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di kawasan perkotaan Jawa Timur.

References

[1] Aqila, F. N., & Santosa, P. B. (2024). Pengaruh Infrastruktur Ekonomi dan Sosial terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Jawa Timur Tahun 2018-2022. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JUPE), 12(1), 45-58.

[2] Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur. (2024). Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jawa Timur Menurut Pengeluaran 2015-2019 & 2020-2024. Surabaya: BPS Provinsi Jawa Timur.

[3] Gujarati, D. N., & Porter, D. C. (2012). Dasar-Dasar Ekonometrika (Buku 2, Edisi 5). Jakarta: Salemba Empat.

[4] Gultom, R. Z., & Tini, A. Q. (2020). Pembangunan Infrastruktur dalam Islam: Tinjauan Ekonomi dan Sosial. Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, 6(2), 203-211.

[5] Haris, A., & Soejoto, A. (2020). Analisis Dampak Aglomerasi Ekonomi terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kawasan Gerbangkertosusila. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JUPE), 8(3), 115-122.

[6] Li, H., Strauss, J., & Lu, Y. (2022). Transport infrastructure and economic growth: Evidence from developing countries. Journal of Development Economics, 158, 102-118.

[7] Lucas, R. E. (1988). On the mechanics of economic development. Journal of Monetary Economics, 22(1), 3-42.

[8] Myrdal, G. (1957). Economic theory and under-developed regions. London: Gerald Duckworth & Co.

[9] Romer, P. M. (1986). Increasing returns and long-run growth. Journal of Political Economy, 94(5), 1002-1037.

[10] Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

[11] Todaro, M. P., & Smith, S. C. (2020). Economic development (13th ed.). London: Pearson.

[12] Waluyo, B. (2007). Perencanaan Pembangunan Nasional dan Tata Ruang Wilayah. Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional.

[13] Wang, C., Wang, Y., & Liu, J. (2020). Infrastructure and regional inequality: Evidence from China's high-speed rail network. Transportation Research Part A, 138, 124-143.

[14] Widarjono, A. (2018). Ekonometrika: Pengantar dan Aplikasinya disertai Panduan EViews (Edisi 5). Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

[15] Yanuarti, w., & Rachmawati, L. (2024). Pengaruh Aglomerasi Terhadap Ketimpangan Perekonomian Pada Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) VII Kediri Tahun 2016-2020. Jurnal Dinamika Ekonomi Pembangunan, 6 (3),166-180. https://doi.org/10.14710/jdep.6.3.166-180

Downloads

Published

2026-07-08