Strategi Pembelajaran Diferensiasi untuk Mengakomodasi Keragaman Gaya Belajar Siswa
DOI:
https://doi.org/10.31539/1zpmwp75Abstract
This study aims to describe the differentiated learning strategies teachers implement to accommodate diverse student learning styles (visual, auditory, and kinesthetic) and to examine their contributions to student engagement and understanding. The study used a descriptive qualitative approach, mapping learning needs at the beginning of the lesson using questionnaires, interviews, and classroom observations as the basis for planning differentiation in content, process, and product. Results show that teachers facilitated visual learners with images, diagrams, and concept maps; auditory learners through discussions and reading aloud; and kinesthetic learners through demonstrations and hands-on practice. In conclusion, implementing this data-based differentiation was associated with increased learning comfort, motivation, participation, and a more inclusive learning environment.
Keywords: Content-Process-Product Differentiation, Learning Styles (VAK), Learning Engagement, Differentiated Learning, Inclusive Learning
References
STRATEGI PEMBELAJARAN DIFERENSIASI UNTUK MENGAKOMODASI KERAGAMAN GAYA BELAJAR SISWA
Maulidatul Rahma1, Ayu Maya Damayanti2,
Nur Widyanto3, Galang Febriansyah4
Universitas PGRI Wiranegara1,2,3,4
maulidatulrahma981@gmail.com
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi pembelajaran diferensiasi yang diterapkan guru untuk mengakomodasi keragaman gaya belajar siswa (visual, auditori, dan kinestetik) serta mengkaji kontribusinya terhadap keterlibatan dan pemahaman belajar siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui pemetaan kebutuhan belajar pada awal pembelajaran dengan angket, wawancara, dan observasi kelas sebagai dasar perencanaan diferensiasi konten, proses, dan produk. Hasil menunjukkan guru memfasilitasi siswa visual dengan media gambar, diagram, peta konsep, siswa auditori melalui diskusi dan membaca nyaring, serta siswa kinestetik melalui demonstrasi dan praktik langsung. Simpulan, penerapan diferensiasi berbasis data ini berkaitan dengan meningkatnya kenyamanan belajar, motivasi, partisipasi, dan pembelajaran yang lebih inklusif.
Kata Kunci: Diferensiasi Konten-Proses-Produk, Gaya Belajar (VAK), Keterlibatan Belajar, Pembelajaran Diferensiasi, Pembelajaran Inklusif
ABSTRACT
This study aims to describe the differentiated learning strategies teachers implement to accommodate diverse student learning styles (visual, auditory, and kinesthetic) and to examine their contributions to student engagement and understanding. The study used a descriptive qualitative approach, mapping learning needs at the beginning of the lesson using questionnaires, interviews, and classroom observations as the basis for planning differentiation in content, process, and product. Results show that teachers facilitated visual learners with images, diagrams, and concept maps; auditory learners through discussions and reading aloud; and kinesthetic learners through demonstrations and hands-on practice. In conclusion, implementing this data-based differentiation was associated with increased learning comfort, motivation, participation, and a more inclusive learning environment.
Keywords: Content-Process-Product Differentiation, Learning Styles (VAK), Learning Engagement, Differentiated Learning, Inclusive Learning
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan komponen penting dari pertumbuhan dan ekspresi dinamis peradaban manusia. Oleh karena itu, kemajuan dalam pendidikan di semua tingkatan dan pergeseran budaya harus tercermin dalam kemajuan pendidikan. Karena pendidikan merupakan cara utama untuk meningkatkan sumber daya manusia, maka pendidikan memainkan peran penting dalam menciptakan individu yang sangat cakap dan berpotensi (Adi et al., 2025).
Siswa belajar dengan berbagai metode. Misalnya, sebagian belajar paling baik melalui alat bantu visual seperti gambar, sebagian lain lebih menyukai penjelasan lisan, dan sebagian lagi belajar paling baik melalui praktik langsung atau gerakan (kinestetik). Sayangnya, banyak guru masih menerapkan strategi pengajaran yang sama untuk setiap siswa di kelas tanpa melakukan penyesuaian untuk memenuhi kebutuhan unik mereka, yang membuat siswa inklusif kesulitan memahami isi yang diajarkan (Adi et al., 2025).
Para siswa menganggap pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh sebagian besar sekolah membosankan dan para guru tidak kreatif. Untuk membuat pembelajaran lebih membosankan bagi siswa, lembaga pendidikan biasanya menggunakan pendekatan ceramah. Pembelajaran yang seragam seringkali terhambat oleh keterbatasan waktu, fasilitas yang kurang memadai, dan masalah dalam memantau gaya belajar siswa secara efisien. Semua siswa merasa proses pembelajaran menjadi kurang menarik dan berhasil ketika kurangnya kreativitas dan fleksibilitas dalam memenuhi berbagai tuntutan siswa (Adi et al., 2025).
Tujuan pembelajaran berdiferensiasi adalah untuk menyesuaikan proses pendidikan dengan berbagai preferensi belajar dan ciri khas setiap peserta didik. Hasilnya, pembelajaran menjadi lebih efisien dan inklusif, memungkinkan setiap siswa untuk belajar dengan cara yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka. Pembelajaran berdiferensiasi dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan belajar unik setiap siswa dengan sebaik-baiknya. Karena strategi pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan, preferensi belajar, dan tingkat kesiapan setiap siswa, hal ini memungkinkan tercapainya hasil belajar yang setinggi mungkin. Khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus atau siswa inklusif, pembelajaran berdiferensiasi berkontribusi pada proses pembelajaran yang lebih sukses dan inklusif. Dengan cara ini, setiap siswa dapat terlibat dan mengembangkan potensi penuh mereka dalam lingkungan pendidikan yang mendukung. Meningkatkan motivasi siswa untuk belajar secara aktif dan membantu mereka mencapai potensi belajar penuh merupakan manfaat lebih lanjut dari penggunaan pengajaran individual. Akibatnya, siswa merasa belajar menjadi efisien dan menyenangkan (Adi et al., 2025).
Kemampuan seseorang untuk dengan cepat menyerap dan mencerna pengetahuan dikenal sebagai gaya belajarnya. Pembelajaran berdiferensiasi diperlukan untuk memenuhi gaya belajar unik setiap siswa. Pendidikan diferensiasi adalah metode atau filosofi pengajaran yang sukses yang menawarkan kepada semua siswa dalam komunitas kelas yang beragam berbagai pendekatan untuk memahami materi baru, seperti: memperoleh informasi; memproses, membangun, atau menalar konsep; dan menciptakan materi pendidikan dan alat evaluasi untuk memungkinkan semua siswa di kelas dengan berbagai tingkat keterampilan untuk belajar secara efisien (Alhafiz, 2022).
Tiga gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik sering disingkat menjadi VAK. Pembelajar visual mahir memproses informasi melalui mata mereka. Secara umum, mereka suka menggunakan alat bantu visual untuk membantu mereka memahami informasi, seperti gambar, infografis, film, poster, animasi, peta konsep, warna, simbol, dan grafik. Mereka harus membayangkan setiap halaman dalam ingatan mereka dan menyajikan gambar dalam berbagai cara untuk membantu pembelajaran. Simbol dan inisial yang mudah dipahami harus digunakan sebagai pengganti pernyataan instruktif. Mereka dapat menggunakan warna atau bentuk sebagai simbol untuk membantu mereka mengingat. Dibandingkan dengan orang yang biasanya menggunakan strategi belajar visual, mereka yang memiliki gaya belajar auditori lebih baik dalam memproses informasi melalui pendengaran. Untuk memahami materi, siswa mengikuti tutorial dan presentasi, mendengarkan kuliah, dan menggunakan lelucon serta cerita.
Secara umum, mereka senang terlibat dalam percakapan internal dan eksternal mengenai informasi, seperti membicarakan suatu subjek dengan siswa lain atau menyampaikan konsep atau fakta dengan lantang kepada orang lain. Di antara alat-alat lain, mereka menggunakan perekam suara untuk memutar ulang pelajaran. Karena mereka lebih suka mendengarkan, siswa dengan gaya belajar auditori mungkin mencatat dengan buruk selama proses pembelajaran. Setelah merekam pelajaran mereka, mereka mendengarkannya. Mereka juga suka merenung di lingkungan yang tenang. Mereka tidak suka belajar di lingkungan yang berisik. Terakhir, ada siswa yang belajar paling baik melalui gerakan. Pembelajar kinestetik biasanya menyerap materi lebih mudah melalui penerapan praktis. Mereka menerapkan metode "coba-coba", melakukan kunjungan lapangan ke laboratorium, mendengarkan dan mengingat contoh-contoh kehidupan nyata, serta menggunakan kelima indera untuk memahami materi saat berada di kelas. Secara umum, mereka lebih menyukai belajar melalui latihan fisik. Alih-alih hanya duduk dan mendengarkan kuliah teori, mereka antusias mempelajari latihan yang dapat menguras energi fisik mereka. Pelajaran teori dengan cepat menjadi membosankan bagi siswa. Mereka membutuhkan alat bantu visual untuk membantu mereka memahami apa yang mereka pelajari. Alat-alat ini memudahkan siswa untuk menjelaskan materi pelajaran, yang memfasilitasi pembelajaran (Alhafiz, 2022).
Tujuan dari pembelajaran berdiferensiasi adalah untuk memodifikasi proses pendidikan di kelas agar sesuai dengan kebutuhan belajar unik setiap siswa. Untuk meningkatkan hasil belajar, modifikasi yang dimaksud berkaitan dengan pemetaan kebutuhan belajar siswa, yaitu profil belajar, minat belajar, dan kesiapan belajar (Atikah et al., 2024).
Ketika kita menghadapi situasi yang dianggap kurang ideal untuk melaksanakan pembelajaran, pembelajaran diferensiasi melalui empat komponennya (situasi, fasilitas dan infrastruktur, kondisi siswa) dapat memberikan kita jawaban dan solusi. Kita dapat menjembatani proses pembelajaran agar tetap berjalan lancar meskipun terdapat hambatan dengan membedakan informasi, prosedur, dan produk. Dari segi lingkungan pembelajaran, guru dapat menawarkan fleksibilitas kepada siswa sesuai dengan preferensi mereka dan kondisi lingkungan pembelajaran, yang akan membuat proses tersebut lebih nyaman dan berkesan bagi mereka (Atikah et al., 2024).
Kita dapat menjembatani proses pembelajaran agar tetap berjalan lancar meskipun terdapat hambatan dengan membedakan informasi, prosedur, dan produk. Dari segi lingkungan pembelajaran, guru dapat menawarkan fleksibilitas kepada siswa sesuai dengan preferensi mereka dan kondisi lingkungan pembelajaran, yang akan membuat proses tersebut lebih nyaman dan berkesan bagi mereka (Atikah et al., 2024). Salah satu taktik yang dapat digunakan guru untuk memenuhi kebutuhan belajar anak adalah pembelajaran berdiferensiasi. Siswa mungkin merasa lebih mandiri dalam belajar berkat pembelajaran berdiferensiasi (Atikah et al., 2024).
Untuk mendukung keterlibatan dan pemahaman siswa terhadap pembelajaran sepanjang proses pembelajaran, studi ini akan menjelaskan strategi pembelajaran diferensiasi yang digunakan oleh guru untuk mengakomodasi keberagaman gaya belajar siswa, termasuk perbedaan gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik.
METODE PENELITIAN
Penelitian kualitatif deskriptif adalah metodologi penelitian yang digunakan, dan tujuan utamanya adalah untuk mendeskripsikan bagaimana guru menerapkan diferensiasi untuk tipe pembelajaran visual auditori kinestetik. Diagnosis dan pemetaan gaya belajar pertama menggunakan kuesioner, wawancara, dan observasi memberikan penjelasan atau saran pada pengumpulan data. Informasi ini kemudian digunakan untuk mengembangkan diferensiasi proses, produk pembelajaran, dan konten. Dengan menghubungkan hasil implementasi (jenis diferensiasi yang digunakan) dengan indikator perubahan di kelas seperti kenyamanan siswa, motivasi, keterlibatan, dan pemahaman, analisis dilakukan secara deskriptif dan interpretatif. Hal ini didukung oleh refleksi berulang dalam siklus peningkatan praktik.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bentuk dan Komponen Diferensiasi
Tiga jenis taktik diferensiasi utama digunakan oleh guru: diferensiasi konten, proses, dan produk. Strategi-strategi ini disesuaikan dengan kesiapan, minat, dan profil pembelajaran siswa, termasuk gaya belajar mereka (Azizah et al., 2023).
Diferensiasi Konten
Diferensiasi konten adalah proses di mana pendidik memodifikasi sumber daya dan konten pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan unik setiap siswa (misalnya, gaya belajar dan kondisi/keterbatasan khusus). Guru di lingkungan kelas yang diteliti memaksimalkan rangsangan visual (tabel, simbol, gambar, diagram warna, dan peta konsep) untuk mendukung kebutuhan pembelajar visual. Untuk membuat materi pelajaran lebih mudah dipahami oleh pembelajar visual, guru juga harus menggunakan alat atau sumber daya yang membuat konsep menjadi "terlihat," seperti proyektor, poster, kolase, atau materi visual lainnya (Azizah et al., 2023).
Diferensiasi Proses
Karena adanya keberagaman gaya dan metode belajar di kelas, diferensiasi proses berfokus pada berbagai aktivitas dan metode pembelajaran yang diciptakan oleh guru agar siswa dapat memproses informasi sesuai dengan kebutuhan dan preferensi belajar mereka. Setelah melakukan diagnosis awal untuk memastikan kebutuhan belajar siswa dalam penelitian ini, para guru membuat beberapa aktivitas dan mampu mengkategorikan siswa sesuai dengan minat, keterampilan, dan kemampuan mereka. Contoh fasilitasi proses berdasarkan gaya belajar meliputi membaca dengan lantang dan mendorong siswa auditori melalui diskusi kelompok, sementara mendukung siswa kinestetik melalui praktik dan demonstrasi langsung (Azizah et al., 2023).
Diferensiasi Produk
Agar guru dapat menilai tingkat pemahaman siswa dan menggunakannya sebagai panduan untuk pembelajaran di masa mendatang, diferensiasi produk berfokus pada berbagai hasil pembelajaran dan bukti yang ditunjukkan siswa. Dengan menunjukkan bahwa hasil pembelajaran mungkin berbeda, diferensiasi produk sering digambarkan sebagai memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengekspresikan "aspirasi belajar" mereka (Azizah et al., 2023).
Karena berfokus pada analisis gaya belajar sebagai data awal untuk merancang diferensiasi, perubahan yang dapat dibahas setelah implementasi pembelajaran diferensiasi tampak lebih seperti perubahan yang diharapkan/ditargetkan (lebih nyaman, lebih antusias/termotivasi, pembelajaran lebih efektif) (Derici & Susanti, 2023).
Kondisi Sebelum Penerapan Diferensiasi
Sebelum adanya diferensiasi, pembelajaran terkadang masih berpusat pada guru dan para guru belum sepenuhnya mengadopsi konsep pengajaran yang beragam. Selain itu, meskipun paradigma baru menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kategorisasi tipe pembelajaran belum pernah digunakan (Derici & Susanti, 2023).
Perubahan Keterlibatan (Engagement)
Lingkungan belajar diakui sebagai faktor yang memengaruhi kenyamanan dan "keterlibatan" siswa selama proses pembelajaran ketika terjadi perubahan dalam keterlibatan atau partisipasi siswa. Hal ini memungkinkan pengaturan kondisi fisik-sosial yang lebih sesuai di dalam kelas untuk meningkatkan keterlibatan. Siswa "merasa lebih nyaman selama proses pengajaran dan pembelajaran" ketika instruksi disesuaikan dengan gaya belajar mereka, yang biasanya menunjukkan peningkatan keterlibatan, seperti menjadi lebih perhatian dan aktif (Derici & Susanti, 2023).
Perubahan Motivasi Belajar
Perubahan motivasi belajar: Untuk meningkatkan antusiasme dan motivasi siswa selama proses pembelajaran, guru harus kreatif dalam model, teknik, dan strategi mereka saat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Selain itu, "meningkatkan motivasi belajar siswa" adalah tujuan dari pembelajaran berdiferensiasi (Derici & Susanti, 2023).
Perubahan Hasil Belajar
Hasil belajar dapat ditingkatkan melalui modifikasi hasil belajar, tujuan belajar yang disesuaikan, dan peningkatan motivasi (Derici & Susanti, 2023).
Penguatan Analisis Implementasi
Karena ketiga komponen pembelajaran diubah secara bersamaan, guru yang menyesuaikan konten, proses, dan produk pembelajaran untuk mengakomodasi gaya belajar visual-auditori-kinestetik menunjukkan penerapan operasional diferensiasi (bukan hanya variasi metode). Gagasan bahwa diferensiasi didasarkan pada data kebutuhan siswa diperkuat oleh praktik pemetaan gaya belajar melalui kuesioner, wawancara, dan observasi di awal tahun atau semester. Hal ini lebih selaras dengan kerangka pembelajaran diferensiasi, yang membutuhkan pengambilan keputusan instruksional berdasarkan pengetahuan awal siswa. Gagasan bahwa diferensiasi diposisikan sebagai siklus peningkatan (rencana-lakukan-periksa-tindak) sehingga secara alami meningkatkan motivasi, partisipasi, dan pemahaman konseptual diperkuat dengan refleksi rutin (misalnya, pada akhir setiap tema atau setiap dua minggu melalui diskusi guru/KKG) (Khatimah et al., 2025). Informasi tentang penggunaan infografis dan video (visual), bercerita, diskusi, dan rekaman (auditori), serta praktik, simulasi, dan proyek (kinestetik) menjelaskan mekanisme bagaimana akses pembelajaran menjadi lebih beragam, meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa. Integrasi segitiga restitusi digambarkan sebagai upaya untuk memupuk hubungan interpersonal dan stabilitas emosional, yang mendukung gagasan bahwa lingkungan kelas yang mendorong partisipasi aktif sama pentingnya dengan taktik akademis untuk keberhasilan diferensiasi. Karena diferensiasi merupakan proses bertahap yang bergantung pada desain aktivitas dan ketersediaan waktu/fasilitas, distribusi dukungan gaya belajar yang tidak merata (misalnya, kinestetik lebih rendah daripada auditori dan visual dalam proses diferensiasi) dapat dilihat sebagai "area penguatan implementasi" daripada sebuah kontradiksi (Khatimah et al., 2025).
Strategi Pendukung dan Model Pembelajaran
Sebagai taktik untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran dalam kerangka Kurikulum Independen, pembelajaran berdiferensiasi meningkatkan pemahaman siswa dan membantu mengakomodasi perbedaan. Gagasan bahwa taktik transisi dan manajemen perhatian meningkatkan keterlibatan peserta didik didukung oleh fakta bahwa guru dapat membangun hubungan dengan siswa dengan menggunakan kegiatan pemecah kebekuan (icebreaker), yang meningkatkan antusiasme, fokus, dan partisipasi. Integrasi teknologi dan media digital interaktif (Wordwall, Canva, kuis, film) yang meningkatkan pemahaman dan partisipasi siswa dapat meningkatkan pendidikan dan mempromosikan keragaman (Khatimah et al., 2025).
Project Based Learning (PBL)
Pembelajaran berbasis proyek sangat meningkatkan motivasi, kerja tim, dan pemahaman materi pelajaran siswa. Ketika perkuliahan disampaikan melalui proyek-proyek dunia nyata, siswa melaporkan bahwa perkuliahan lebih mudah dipahami. Para pengajar mencatat bahwa siswa yang sebelumnya pasif mulai berpartisipasi lebih aktif dalam diskusi kelas dan berbagi ide. Karena peran yang mereka mainkan sesuai dengan kekuatan mereka, siswa dengan kecenderungan kinestetik tampak lebih percaya diri. Selain itu, karena siswa diharuskan untuk merencanakan, menilai, dan merefleksikan proyek mereka, guru telah mengamati peningkatan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Para siswa menggunakan program-program dasar untuk membuat poster, mengedit film, dan membuat laporan sebagai bagian dari proyek ini, yang juga membantu mereka meningkatkan keterampilan literasi digital. Untuk mengevaluasi hasil dan proses pembelajaran siswa secara adil, guru pembimbing menggunakan rubrik penilaian formatif dan sumatif. Dari segi kerja tim, PBL (Problem-Based Learning) menumbuhkan lingkungan kerja sama yang kuat di antara siswa sekaligus memupuk empati dan rasa hormat terhadap posisi satu sama lain. Pada akhir proyek, latihan refleksi memberi siswa kesempatan untuk menilai pembelajaran individu dan kelompok mereka. Karena memungkinkan pendidik untuk menyediakan konten yang sama dalam berbagai format sekaligus, media digital interaktif merupakan alat yang penting. Telah dibuktikan bahwa permainan edukatif, presentasi animasi, tes interaktif, dan film pembelajaran dapat menjangkau siswa dengan gaya belajar yang berbeda (Khatimah et al., 2025).
Kondisi Pembelajaran Sebelum Diferensiasi
Sebelum adanya diferensiasi, strategi pengajaran lebih berpusat pada pengajaran konten yang sama kepada setiap siswa di kelas tanpa melakukan modifikasi berdasarkan kesiapan, minat, atau metode belajar pilihan mereka. Pengalaman belajar yang tidak personal terjadi karena media/materi pembelajaran yang digunakan tidak secara khusus disesuaikan dengan jenis atau gaya belajar (misalnya, visual, auditori, kinestetik). Karena kegiatan pembelajaran tidak disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi belajar setiap siswa, keterlibatan siswa terkadang tidak merata; beberapa siswa merasa lebih mudah untuk mengikuti, sementara yang lain kurang mendapat bantuan. Diferensiasi dapat "mendorong partisipasi aktif" dan mempertahankan antusiasme siswa dalam belajar; ini menunjukkan bahwa sebelum adanya diferensiasi, partisipasi dan antusiasme belajar siswa tertentu berada di bawah standar. Bahan ajar yang biasa digunakan (buku/modul cetak), yang diklaim memiliki kelemahan seperti tampilan yang kurang menarik, informasi yang kurang dinamis, dan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan siswa dengan gaya belajar yang berbeda, merupakan beberapa tantangan yang ditimbulkan oleh perbedaan gaya belajar. Pembelajaran mungkin menjadi kurang relevan bagi sebagian siswa jika berbagai persyaratan pembelajaran tidak terpenuhi, yang dapat menyebabkan pemahaman dan hasil belajar yang lebih buruk dari yang diharapkan untuk kelompok tertentu (Safitri et al., 2023).
Perencanaan Pembelajaran Diferensiasi
Untuk membuat pembelajaran responsif terhadap beragam gaya belajar siswa (visual, auditori, dan kinestetik), taktik diferensiasi diterapkan selama proses perencanaan guru. Konten, proses, produk, dan lingkungan pembelajaran adalah empat komponen utama yang disesuaikan. Perubahan ini kemudian tercermin dalam tujuan, materi, teknik, media, dan aktivitas pembelajaran.
Penyesuaian Tujuan Pembelajaran
Penyesuaian tujuan pembelajaran, Karena taktik diferensiasi memungkinkan penyesuaian pembelajaran sehingga setiap siswa dapat belajar sesuai dengan preferensi mereka, guru membuat tujuan yang tetap terhubung dengan hasil kurikulum tetapi lebih fleksibel dalam cara siswa mencapainya. tujuan operasional dapat menyoroti banyak metode pembuktian penguasaan, seperti pemahaman konsep melalui penjelasan verbal, representasi visual, atau pengalaman langsung (Efrianefrian 2024).
Penyesuaian Materi (Konten)
Untuk mengakomodasi beragam gaya belajar, guru membuat sumber daya dalam berbagai format, seperti teks, infografis, video, atau audio. Dalam hal perencanaan, pembelajar visual lebih banyak memperoleh manfaat dari gambar dan diagram, sedangkan pembelajar auditori lebih banyak memperoleh manfaat dari penjelasan lisan atau rekaman audio. Akibatnya, pendidik mempersiapkan berbagai macam materi sejak awal (Efrianefrian, 2024).
Penyesuaian Metode dan Aktivitas (Proses)
Guru memilih metode dan aktivitas interaktif seperti diskusi kelompok, simulasi, atau eksperimen untuk meningkatkan keterlibatan siswa, terutama bagi mereka yang memiliki gaya belajar kinestetik. Karena gaya belajar kinestetik menekankan pengalaman langsung dan gerakan fisik, perencanaan aktivitas praktis (eksperimen/simulasi) merupakan bagian penting dari proses pembelajaran diferensiasi (Efrianefrian, 2024).
Penyesuaian Penilaian/Produk Belajar
Guru menawarkan berbagai format "produk" selama perencanaan, seperti esai, proyek seni, presentasi, video, dan tes standar, untuk menunjukkan pemahaman siswa. Siswa dapat menyampaikan pembelajaran mereka dalam format yang paling sesuai dengan mereka berkat berbagai kemungkinan produk yang disesuaikan dengan minat dan kekuatan mereka (Efrianefrian, 2024).
Penyesuaian Media dan Lingkungan Belajar
Melalui penggunaan teknologi, seperti platform pembelajaran daring yang menawarkan berbagai sumber belajar (video, modul interaktif, kuis), dan pengaturan kelas yang fleksibel (area kerja individu/kelompok), guru menciptakan lingkungan belajar yang bermanfaat. Tujuan dari perencanaan lingkungan ini adalah untuk meningkatkan kenyamanan, motivasi, dan keterlibatan siswa sekaligus menyesuaikan akses belajar dengan kecepatan dan preferensi belajar masing-masing siswa (Efrianefrian, 2024).
Strategi Aktivitas Berjenjang (Tiered Activities)
Dodge juga menyarankan prosedur tiga langkah untuk mencapai hal ini: (1) Buat latihan untuk siswa di tingkat yang lebih tinggi. (2) Buat latihan yang memberikan bantuan, sumber daya, dan bimbingan tambahan kepada siswa yang kesulitan; dan (3) Buat latihan yang semakin sulit yang akan menantang siswa di tingkat yang lebih tinggi. Selain itu, disarankan tiga metode untuk menentukan tingkat yang tepat bagi siswa tertentu: memberikan siswa pilihan penuh di antara berbagai tingkatan, membiarkan mereka memilih antara dua dari tiga tingkatan, atau menugaskan setiap siswa ke suatu tingkatan berdasarkan penilaian terbaik guru (Jayanti et al., 2022).
Penerapan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan gaya belajar dapat dilakukan melalui kegiatan berikut :
Melakukan Asesmen Diagnostik Sebelum Pembelajaran dan Menganalisisnya
Baik tes diagnostik kognitif maupun non-kognitif dimungkinkan. Tujuan tes diagnostik kognitif adalah untuk memastikan seberapa baik siswa memahami materi pelajaran. Guru akan dapat merancang tujuan pembelajaran yang selaras dengan kesiapan belajar siswa dan memilih tingkat pembelajaran siswa berdasarkan data yang mereka peroleh tentang kesiapan belajar siswa. Tes selanjutnya adalah tes diagnostik non-kognitif yang dapat dilakukan dengan sejumlah metode, termasuk kuesioner, observasi, dan wawancara. Tujuan dari penilaian ini adalah untuk membantu guru lebih memahami latar belakang dan preferensi belajar murid mereka, yang dapat berdampak pada kegiatan di kelas. Penilaian ini dapat digunakan untuk menentukan gaya belajar. Para pengajar dapat menggunakan informasi tentang gaya belajar siswa untuk menyusun rencana pembelajaran mereka. Selain siswa, orang tua atau profesor dari kelas sebelumnya dapat dijadikan sumber data. Guru kemudian meneliti gaya belajar siswa dan mengklasifikasikannya ke dalam gaya belajar visual, auditori, atau kinestetik karena pembelajaran diferensiasi didasarkan pada gaya belajar.
Menciptakan Strategi dan Sumber Daya Pendidikan Sesuai dengan Preferensi Belajar
Guru dapat mengembangkan strategi dan sumber daya pembelajaran yang bergantung pada gaya belajar setelah mengumpulkan dan memeriksa data. Faktor diferensiasi yang akan diterapkan merupakan faktor terpenting dalam langkah ini. Diferensiasi dapat dilakukan berdasarkan faktor ini melalui barang, prosedur, dan materi yang digunakan sepanjang proses pembelajaran. Menyajikan berbagai jenis konten atau sumber daya sesuai dengan gaya belajar, misalnya melalui gambar, video, lagu pembelajaran, aktivitas praktik, atau observasi, adalah cara untuk melakukan diferensiasi konten. Selain itu, berbagai latihan pengelompokan pembelajaran yang bergantung pada gaya belajar siswa, seperti kelompok visual, auditori, dan kinestetik, dapat digunakan untuk melakukan diferensiasi proses. Selain itu, menampilkan berbagai produk pembelajaran seperti poster, peta pikiran, laporan observasi, dan sebagainya dapat membantu mendorong diferensiasi. Penting untuk diingat bahwa diferensiasi dapat disesuaikan dengan jenis mata pelajaran, siswa, dan waktu kelas; tidak harus mencakup ketiganya.
Melaksanakan Pembelajaran Berdiferensiasi.
Tahap selanjutnya adalah menerapkan pembelajaran berdasarkan perencanaan pembelajaran diferensiasi. Kombinasi teks dan visual yang menarik akan membuat pembelajaran menyenangkan bagi pembelajar visual. Mereka juga menyukai tulisan yang rapi dan menarik. Pembelajaran melalui mendengarkan, seperti melalui penjelasan guru atau melalui video dan podcast, lebih disukai oleh pembelajar auditori. Lagu-lagu edukatif dengan lirik yang disesuaikan dengan materi pelajaran dapat membantu memotivasi mereka untuk belajar. Pembelajar kinestetik akan merasa tugas-tugas praktis dan observasi lebih menyenangkan karena mereka lebih menyukai pendekatan pembelajaran yang melibatkan banyak gerakan.
Melakukan Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut
Tidak diragukan lagi bahwa evaluasi dan tindak lanjut tidak dapat dihilangkan dari daftar tugas yang telah diselesaikan. Merefleksikan hasil implementasi pembelajaran, apakah sesuai dengan penerapan pembelajaran diferensiasi dan komponen-komponennya, bagaimana respons siswa dan hasil belajar mereka, serta faktor-faktor lainnya, semuanya merupakan bagian dari kegiatan evaluasi. Setelah itu, evaluasi diperiksa untuk menentukan area yang berhasil dan yang tidak berhasil. Guru mempertahankan praktik terbaik saat ini dan melakukan perbaikan di area yang perlu diperbaiki melalui rencana tindak lanjut (Latifah, 2023).
SIMPULAN
Untuk mengakomodasi gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik secara lebih inklusif, strategi pembelajaran diferensiasi diadopsi melalui modifikasi pada konten, prosedur, dan produk. Penggunaan tes diagnostik (kuesioner, wawancara, dan observasi) untuk memetakan kebutuhan belajar siswa merupakan langkah awal yang penting untuk memastikan bahwa diferensiasi didasarkan pada data dalam pengambilan keputusan pembelajaran, bukan sekadar perubahan pendekatan. Karena akses pembelajaran ditawarkan dalam berbagai format dan aktivitas yang sesuai dengan profil pembelajaran, penggunaan diferensiasi dikaitkan dengan keterlibatan, motivasi, kenyamanan, dan pemahaman siswa yang lebih besar.
DAFTAR PUSTAKA
Adi, M. I. F., Masnawati, E., Abrori, M. M. L., & Luthfyah, L. (2025). Implementasi Model Pembelajaran Diferensiasi untuk Mengakomodasi Gaya Belajar Siswa Inklusi di SMP Negeri 3 Krian Sidoarjo. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(02), 240-252. https://doi.org/10.23969/jp.v10i02.26042
Alhafiz, N. (2022). Analisis Profil Gaya Belajar Siswa untuk Pembelajaran Berdiferensiasi di SMP Negeri 23 Pekanbaru. J-Abdi: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(8), 1913-1922. https://doi.org/10.53625/jabdi.v1i8.946
Atikah, I., Fauzi, M. A. R. A., & Firmansyah, R. (2024). Penerapan Strategi Diferensiasi Konten dan Proses pada Gaya Belajar Berbasis Model Problem Based Learning. Pubmedia Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Indonesia, 1(2), 11-11. https://doi.org/10.47134/ptk.v1i2.57
Azizah, S. A., Usman, A., Fauzi, M. A. R. A., & Rosita, E. (2023). Analisis Gaya Belajar Siswa dalam Menerapkan Pembelajaran Berdeferensiasi. Jurnal Teknologi Pendidikan, 1(2), 12-12. https://doi.org/10.47134/jtp.v1i2.74
Derici, R. M., & Susanti, R. (2023). Analisis Gaya Belajar Peserta Didik Guna Menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi di Kelas X SMA Negeri 10 Palembang. Research and Development Journal of Education, 9(1), 414-420. http://dx.doi.org/10.30998/rdje.v9i1.16903
Efrianefrian, Y. (2024). Strategi Diferensiasi dalam Perencanaan Pembelajaran Untuk Mengakomodasi Beragam Gaya Belajar. Journal Sultra Elementary School, 5(2), 894-907
Jayanti, M. I., Umar, U., Nurdiniawati, N., & Amar, K. (2022). Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Perspektif Richard I. Arends dan Kilcher: Konsep, Strategi, dan Optimalisasi Potensi Belajar Siswa. eL-Muhbib Jurnal Pemikiran dan Penelitian Pendidikan Dasar, 6(2), 91-108. https://doi.org/10.52266/el-muhbib.v6i2.1215
Khatimah, N., Ramadhan, S., & Hermansyah, H. (2025). Kreativitas Guru Penggerak dalam Menerapkan Model Pembelajaran Berdiferensiasi sebagai Solusi Keberagaman Gaya Belajar Siswa di SDN 21 Tolomundu Kota Bima. Al-Madrasah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, 9(3), 1633-1650. http://dx.doi.org/10.35931/am.v9i3.5020
Latifah, D. N. (2023). Analisis Gaya Belajar Siswa untuk Pembelajaran Berdiferensiasi di Sekolah Dasar. Learning: Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran,. 3(1), 68-75. https://doi.org/10.51878/learning.v3i1.2067
Safitri, N., Safriana, S., & Fadieny, N. (2023). Literatur Review: Model Pembelajaran Berdiferensiasi Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik. Jurnal Pendidikan dan Ilmu Fisika, 3(2), 246-255. https://doi.org/10.52434/jpif.v3i2.2811
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Maulidatul Rahma, Ayu Maya Damayanti, Nur Widyanto, Galang Febriansyah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

