Representasi Kritik Sosial Kerusakan Lingkungan dalam Film Animasi Princess Mononoke Karya Hayao Miyazaki

  • Rayna Radinka Laksonia Universitas Telkom Jalan Telekomunikasi Terusan Buah Batu No. 1 Bandung, Jawa Barat 40257
  • Dimas Satrio Wijaksono Universitas Telkom

Abstract

Saat ini, masalah kerusakan lingkungan merupakan salah satu masalah terbesar yang ada di dunia. Sayangnya tidak semua orang menyadari bagaimana gentingnya permasalahan lingkungan yang saat ini terjadi. Oleh karena itu, film sebagai media penyampai pesan yang dapat diakses dengan mudah oleh berbagai kalangan, saat ini menjadi salah satu media yang digunakan untuk menyampaikan pesan maupun kritik sosial terhadap isu kerusakan lingkungan. Pada penelitian ini peneliti akan menggunakan film animasi Princess Mononoke karya Hayao Miyazaki yang menceritakan bagaimana Ashitaka, San dan hewan hutan lainnya berjuang untuk menyelamatkan hutan dari Lady Eboshi dan pasukannya yang ingin menguasai hutan demi keuntungan mereka sendiri. Penelitian dilakukan untuk melihat bagaimana karakter-karakter pada film ini merepresentasikan hal-hal yang dapat merusak lingkungan sebagai bentuk kritik sosial terhadap kerusakan lingkungan. Metode yang peneliti gunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teori Semiotika John Fiske yang terbagi menjadi tiga level yaitu level realitas, level representasi, dan level ideologi. Dari penelitian ini, diperoleh hasil yaitu kritik sosial terhadap kerusakan lingkungan dalam film Princess Mononoke diperlihatkan melalui kode ekspresi dan kode perilaku juga tindakan karakter pada level realitas, kemudian pada level representasi diperlihatkan melalui kode kamera dan dialog, lalu pada level ideologi, terlihat karakter pada film ini memiliki ideologi antroposentrisme.

Kata Kunci: Film Animasi, Kerusakan Lingkungan, Kritik Sosial, Representasi, Semiotika

 

References

Agusta, I. (2003). Teknik Pengumpulan dan Analisis Data Kualitatif. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi. Litbang Pertanian, Bogor, 27.

Bowen, C. (2018). Grammar of the Shot. NY: Routledge.

Chan, M. A. (2015). Environmentalism and the Animated Landscape in Nausicaä of the Valley of the Wind (1984) and Princess Mononoke (1997).

Dirgantari, A. P. (2020). Ekofeminisme pada Tokoh San dalam film “Princess Mononoke” Karya Sutradara Hayao Miyazaki. PANTUN, 5(1).

Fiske, J. (1987). Television Culture: Popular Pleasures and Politics (Studies in Communication Series).

Gani, M. A., & Nuraeni, R. (2019). Representasi Kritik Sosial Pada Film Dokumenter Dibalik Frekuensi. eProceedings of Management, 6(3).

Gregor, D. (2020). The Need for Action: Understanding the Environmental Warnings in Princess Mononoke and Oryx and Crake. Undergraduate Review, 15(1), 91-102.

Hulukati, M., & Isa, A. H. (2020). Dampak Penambangan Pasir Terhadap Kelestarian Lingkungan Di Kelurahan Tumbihe. Jambura Journal of Community Empowerment, 112-121.

Kidd, J. (2015). Representation. NY: Routledge.

Kristiawan, A., & Wahyuningsih, S. E. (2018). Perspektif Tindak Pidana Administrasi Terhadap Tindak Pidana Pertambangan Tanpa Ijin (Peti) Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Mineral Dan Batubara. Jurnal Daulat Hukum, 1(1).

MacLin, M. K., Downs, C., MacLin, O. H., & Caspers, H. M. (2009). The effect of defendant facial expression on mock juror decision-making: The power of remorse. North American Journal of Psychology, 11(2), 323-332.

Morgan, G. (2015). Creatures in Crisis: Apocalyptic Environmental Visions in Miyazaki's Nausicaä of the Valley of the Wind and Princess Mononoke. Resilience: A Journal of the Environmental Humanities, 2(3), 172-183.

Mudjiono, Y. (2011). Kajian Semiotika dalam film. Jurnal Ilmu Komunikasi, 1(1), 125-138.

Muscari, M. (2004). Juvenile animal abuse. Journal of Pediatric Health Care, 18(1), 15–21. doi:10.1016/s0891-5245(03)00122-6

Napier, S. (2001). Anime from Akira to Princess Mononoke: experiencing contemporary Japanese animation. Springer.

Okuyama, Y. (2015). Japanese Mythology in film: a semiotic approach to reading japanese film and anime. Lexington Books.

Reinders, E. (2016). The moral narratives of Hayao Miyazaki. McFarland

Rochmani, R., Faozi, S., & Suliantoro, A. (2019, July). Rationalism and Antropocentrism in Human Behaviour in Exploiting Natural Resources and Industrial Activities. In International Conference on Banking, Accounting,
Management, and Economics (ICOBAME 2018) (pp. 66-68). Atlantis Press.

Walker, B. L. (2009). The lost wolves of Japan. University of Washington Press.

Wright, L. (2005). Forest spirits, giant insects and world trees: The nature vision of Hayao Miyazaki. The Journal of Religion and Popular Culture, 10(1), 3-3.
Published
2022-12-31
How to Cite
Laksonia, R., & Wijaksono, D. (2022). Representasi Kritik Sosial Kerusakan Lingkungan dalam Film Animasi Princess Mononoke Karya Hayao Miyazaki. Jurnal KIBASP (Kajian Bahasa, Sastra Dan Pengajaran), 6(1), 215-228. https://doi.org/https://doi.org/10.31539/kibasp.v6i1.4520
Abstract viewed = 0 times
pdf downloaded = 0 times